Di tengah "invasi" senyap merek-merek otomotif China yang semakin masif, pelajaran penting kini mulai terlihat: menaklukkan Jakarta saja tidak cukup untuk memenangkan perang di Indonesia.
Jaecoo, merek SUV premium di bawah payung Chery, tampaknya sangat memahami hal ini. Alih-alih hanya berpuas diri dengan hiruk pikuk ibu kota, mereka kini melancarkan "perang darat" yang sesungguhnya, membuka benteng pertahanan baru di dua wilayah strategis yang sangat berbeda: Medan dan Denpasar.
Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa. Tapi pengakuan bahwa untuk benar-benar menancapkan kuku di pasar otomotif nasional, merek baru harus berani keluar dari zona nyaman, menjemput bola, dan merebut hati konsumen di daerah secara langsung.
Benteng di Pulau Dewata dan Showroom di Jantung Kota Medan
Strategi "perang darat" Jaecoo dilancarkan melalui dua pendekatan yang sangat berbeda, menunjukkan kejelian mereka dalam membaca karakter pasar lokal.
Benteng 3S di Denpasar: Pada 7 Juli 2025, Jaecoo meresmikan diler 3S (Sales, Service, Sparepart) di Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar. Dengan luas lahan lebih dari 1.000 meter persegi, ini adalah sebuah benteng pertahanan lengkap.
“Bali adalah pasar yang unik karena karakter konsumennya sangat terbuka terhadap gaya hidup dan teknologi baru,” ujar Hendra Kurniawan, CEO PT Sumber Baru Indo Arta. Kehadiran fasilitas lengkap ini adalah sebuah jaminan bagi para calon pembeli di Bali bahwa mereka tidak akan "ditinggalkan" setelah membeli mobil.
Gerilya di Pusat Perbelanjaan Medan: Di Medan, Jaecoo mengambil pendekatan yang lebih inovatif. Pada 5 Juli 2025, mereka membuka City Store pertama di dalam Mall Centre Point. Ini adalah sebuah langkah gerilya, sebuah cara untuk menyusup ke pusat gaya hidup masyarakat urban Medan.
"Konsep City Store ini memungkinkan interaksi yang lebih dekat dengan konsumen," kata Tommy Katio, Direktur PT Metro Oriental Stars. Ini adalah strategi untuk membuat merek yang tadinya asing menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari.
Mengapa Ekspansi Fisik Begitu Krusial?
Di era digital, mengapa sebuah diler fisik masih begitu penting, terutama bagi merek baru? Jawabannya adalah kepercayaan.
"Peresmian diler di Medan dan Denpasar adalah langkah strategis Jaecoo untuk memperluas pasar dan mendekatkan diri dengan konsumen di luar Jakarta," tegas Max Zhou, Country Director Jaecoo Indonesia.
Bagi konsumen di luar Jakarta, membeli mobil dari merek yang belum teruji adalah sebuah pertaruhan besar. Mereka butuh jaminan fisik. Mereka perlu melihat bangunannya, menyentuh mobilnya, dan berbicara langsung dengan para stafnya.
Sebuah diler bukan lagi hanya tempat menjual mobil; ia adalah sebuah monumen kepercayaan. Tanpa itu, sebagus apa pun produknya, ia akan tetap menjadi "mobil gaib" yang hanya ada di internet.
Senjata yang Ditawarkan di Medan Perang
Di kedua "medan pertempuran" baru ini, Jaecoo menurunkan seluruh armada andalannya: J7 AWD, J7 SHS (PHEV), dan J8 AWD. Sorotan utama tentu saja tertuju pada J7 SHS, sebuah SUV plug-in hybrid yang diklaim mampu menempuh jarak hingga 1.300 km hanya dengan satu tangki penuh—sebuah efisiensi luar biasa yang setara dengan biaya sekitar Rp758.000 untuk perjalanan sejauh itu.
"Jaecoo hadir bukan hanya sebagai SUV premium, tetapi juga membawa semangat 'From Classic Beyond Classic' – menyatukan warisan desain klasik dengan teknologi masa depan," tambah Max Zhou.
Pada akhirnya, ekspansi Jaecoo ke Medan dan Bali adalah sebuah pelajaran berharga. Ini adalah bukti bahwa dalam perang untuk merebut pasar otomotif Indonesia, pertempuran sesungguhnya tidak terjadi di dunia maya, tetapi di dunia nyata. Ini adalah perang untuk membangun kepercayaan, satu diler, satu konsumen, pada satu waktu. Dan dalam perang darat ini, Jaecoo telah melepaskan tembakanpertamanya.
0 Comments