Industri otomotif global kini sedang memasuki babak sengit dalam persaingan mobil listrik (EV). Di banyak negara seperti China dan Thailand, perang harga telah meluas, memicu kekhawatiran soal kesinambungan bisnis, keuntungan pabrik, dan standar keselamatan. Toyota, sebagai salah satu pemain lama dalam otomotif global, angkat suara mengenai dinamika ini.
🔥 1. Situasi Perang Harga EV: China & Thailand Menjadi Titik Panas
-
Di China, diskon besar-besaran dilakukan pabrikan seperti BYD, Geely, dan Leapmotor—diskon mencapai hingga 34%, khususnya model seperti Seal dan Seagull. Ini memicu kekhawatiran terkait oversupply dan perlombaan harga yang merusak industri
-
Di Thailand, harga EV dan mobil hybrid semakin ditekan lewat promosi harga. EVT Thai bahkan menyebut ini sebagai harga perang meskipun mendapat bantahan dari Federasi Industri Thailand yang menyebutnya sebagai strategi penjualan biasa, bukan perang harga sistemik
🚗 2. Sikap Toyota: Lebih Fokus pada Strategi Jangka Panjang daripada Diskon Kilat
Toyota tidak ingin terlibat dalam perang harga EV yang agresif. Menurut perwakilan Toyota Eropa, mereka memilih menawarkan beragam produk—termasuk hibrid dan kendaraan hidrogen—agar tidak terpaksa memangkas harga secara destruktif. Dalam kondisi penjualan EV yang belum mencapai critical mass, margin bisnis tetap harus terjaga
Chairman Toyota sendiri pernah menyebut bahwa bisa jadi terlalu naif jika mengira mereka bisa sepenuhnya menghindari efek perang harga. Yang jelas, Toyota mencoba menjaga fleksibilitas strategi untuk menjaga profitabilitas produk EV mereka
⚠️ 3. Risiko Perang Harga: Bukannya Menang, Produsen Bisa Rugi
-
Perang harga yang agresif dapat memicu penurunan profitabilitas jangka panjang, terutama ketika infrastruktur pendukung seperti after-sales service belum siap. Studi di China menunjukkan banyak merek kecil gulung tikar, meninggalkan konsumen dengan “mobil zombie”—unit yang tidak bisa diakses fiturnya usai perusahaan bangkrut
-
Analisis global mengingatkan bahwa tak ada pemenang dalam perang harga—semua yang terlibat bisa rugi secara finansial dan inovatif
🔍 4. Gaya Tesla vs Toyota: Strategi yang Bertolak Belakang
-
Tesla dan merek-merek EV asal China seperti BYD mampu bertahan di bawah tekanan harga karena sudah memiliki ekosistem efisien, modal skala, dan volume besar. Tesla bahkan menjadi pemimpin pasar EV global meski margin rendah
-
Sementara itu, Toyota cenderung mengambil pendekatan multi-pathway: fokus pada teknologi hybrid, hydrogen, dan EV secara seimbang. Toyota mengestimasi pangsa pasar EV hanya sekitar 30% di masa depan, sementara sisanya akan diisi kendaraan yang menggunakan teknologi campuran, termasuk di negara berenergi rendah
✅ Kesimpulan: Toyota dan Etika Persaingan di Industri EV
Toyota mengajukan argumen penting bahwa perang harga bukan solusi jangka panjang. Strategi menurunkan harga secara agresif mungkin mendatangkan penjualan sesaat, tetapi berisiko merusak nilai brand, profitabilitas, dan posisi perusahaan di masa depan.
Dengan pendekatan yang berhati-hati terhadap EV—mengombinasikan inovasi teknologi, penguatan jaringan after-sales, dan diversifikasi produk—Toyota mencoba menjauh dari “perang mati” harga. Sebaliknya, mereka berharap konsumen dan regulator berpihak kepada persaingan yang sehat, berkelanjutan, dan inovatif.
0 Comments